Advertisement

(Daily) Guru Penuh Dedikasi, Beliau Bernama Pak Alimin

Guru ekonomi kami, Pak Alimin, beliau baru mengajar ketika kelas 2 KMI (atau setara SMA). Beliau adalah sosok yang cukup menakutkan di mata kami. Umurnya kala itu kalau tidak salah sekitar 50-an, perawakannya garang, pandangannya tajam, matanya merah dan langkahnya sangatlah pasti. 

Pak Alimin adalah guru panggilan, mengajar hanya ketika ada jadwal di sekolah, setelahnya beliau akan kembali ke sekolah asal tempat dimana beliau menjadi guru tetap. 

Spesifikasi beliau adalah mata pelajaran akuntansi, pelajaran yang sama beratnya dengan matematika IPA bagi anak IPS. "Balance adalah harga mati", begitu kata orang-orang.

Hal yang berkesan dari beliau adalah spidol selalu berada di tangan kanan-nya, jika tidak bisa menjawab pertanyaan, maka lemparan kecil dari spidol akan melayang ke kepala. Menyenangkan rasanya, karena hanya tawa yang akan tercipta jika suasana kelas sudah mulai tanya jawab. Bukan, lebih tepatnya suasana menegangkan, karena takut bakal ditunjuk. Beliau akan menyeringai tipis ketika para siswanya mulai berpura-pura berpikir guna menghindari kontak mata dengannya.

Anak Kesayangan Bapak

Pak Alimin ditunjuk sebagai guru pembimbing untuk kompetisi tingkat madrasah 2013 mata pelajaran Ekonomi. Beliau memberikan tambahan pelajaran di waktu libur pondok yaitu Hari Jumat, ketika semua orang bersantai di hari liburnya, maka aku harus mandi pagi dan memakai lilit (jilbab khusus pondok jika harus keluar dari gerbang asrama) untuk pergi ke sekolahan.

Malas? ada banget. Kesel? iya, karena hanya sendiri. Teman asrama ku mengatakan, 'semangat ya za belajar sama pak al nya' hahaha ntahlah aku hanya merasa itu ledekan tipis yang mereka utarakan. 

Semenjak mulai mengikuti seleksi tingkat kota, daerah, lalu kemudian provinsi. Temanku merasa pak Alimin mulai menaruhku diposisi anak kesayangan. Setiap ada tanya jawab, pasti mereka melempar namaku. Wajar karena bimbingan pribadi untuk persiapan kompetisi membuat waktuku dengan beliau jadi lebih lama dan menjadi lebih dekat.

Berjasa Tapi Seolah Tak Kasat Mata 

Semua hal beliau ajari, ekonomi makro, ekonomi mikro, akuntansi, dll. Seolah jangan sampai ada yang tertinggal untuk dibagikan. Aku pun sudah kewalahan, seperti masuk telinga kanan keluar telinga kiri, tidak mengerti sama sekali, mencoba memahami tapi hilang sebagian memori.

'Pak, kalau dak dapek lanjuik ka nasional, dak baa do kan pak', ucap ku pada beliau, berharap tidak adanya ekspektasi yang berlebihan yang nantinya justru memberatkan langkahku. 'Bisa tu nyo, dak dapek dak bagai do, namonyo dak razaki', jawab beliau. Tenang dan terasa melegakan, walaupun ku tahu ada sebuah pengharapan.

Semakin memasuki seleksi nasional, pembelajaran ku mulai diketatkan, semua mata mulai tertuju padaku yang sebentar lagi akan berangkat ke Malang turut membawa nama sekolah. Ketika tiba saatnya keberangkatan, Pak Alimin tak ikut mendampingi, 'dak ada ditawarkan dari sekolah', ucap beliau berbisik padaku. Sedih, tentu karena aku butuh guru pendamping yang relevan dengan mata pelajaran yang dikompetisikan.

Ketika semua kontingen Sumatera Barat berkumpul, ternyata hampir semua sekolah terkenal turut mengikutsertakan guru pembimbing mereka, sembari berkumpul dan beristirahat mereka dengan luwesnya berdiskusi dengan guru masing-masing. Hal yang sangat mengirikan.

Pembuka Harapan Semua Orang

Dulu, jarang sekali ada yang tembus ke tingkat provinsi apalagi tingkat nasional untuk mata pelajaran akademik.

Tahun 2013, Alhamdulillah akhirnya bisa menempatkan sekolah sebagai penerima medali perunggu di mata pelajaran Ekonomi. Awal mula yang bagus walaupun sepertinya masih bisa ditingkatkan lagi. Tidak hanya aku, perwakilan dari MI Diniyyah Puteri juga menyabet medali emas, hal ini membuat Diniyyah Puteri penuh suka cita dan mengadakan syukuran guna mengapresiasi anak didiknya.

Aku tentu bahagia, hanya saja nama guru pembimbing tidak ikut digaungkan namanya. Beliau pasti sedih, mesti tak apa asal anak didiknya tetap melaju jauh kedepan.




Post a Comment

0 Comments